Celana Seragam

Celana Seragam

Abimanyu Darmawan1 min readRefleksi

Pernah nggak tiba-tiba diingatkan sama sebuah cerita masa sekolah yang sebenarnya sudah benar-benar terlupakan?

Dua hari lalu ibu saya cerita sesuatu yang sederhana, tapi entah kenapa cukup bikin saya terdiam. Dulu, waktu masih sekolah, ternyata saya sering memakai celana sekolah yang sobek. Sobeknya bukan sekali dua kali, tapi memang karena sudah terlalu sering dipakai. Beruntungnya, kakek saya seorang penjahit, jadi setiap kali celana itu robek, beliau selalu menambalnya. Sampai akhirnya bisa dipakai lagi seperti biasa walaupun tampilan celananya seingat saya agak belang ya, haha.

Terlebih lagi, saya tahu alasan kenapa waktu itu tidak langsung dibelikan yang baru. Orang tua saya memang sedang berusaha mencukupi kebutuhan keluarga. Posisi saya waktu itu sudah tinggal sekitar beberapa tahun lagi lulus sekolah, sementara adik saya masih membutuhkan banyak keperluan. Jadi, daripada membeli seragam baru untuk saya, mereka memilih memprioritaskan kebutuhan adik saya.

Tapi kalau boleh menyebut satu hal yang paling membuat saya tersentuh, justru bukan soal celana yang sobek itu. Yang membuat saya terharu adalah saya sama sekali tidak mengingat pernah merasa keberatan. Saya tidak pernah protes, tidak pernah marah, bahkan tidak pernah merasa iri melihat teman-teman yang mungkin memakai seragam baru. Bagi saya waktu itu, bisa tetap berangkat sekolah setiap hari saja sudah lebih dari cukup.

Mungkin memang begitu ya. Kita menjalani semuanya tanpa benar-benar sadar apa yang sedang diperjuangkan oleh orang tua kita. Kita menganggap semua berjalan sebagaimana mestinya. Baru ketika sudah dewasa, lalu mendengar kembali cerita-cerita kecil seperti ini, kita mulai memahami bahwa ternyata ada banyak pengorbanan yang dulu tidak pernah kita lihat.

Saya jadi berpikir, mungkin ada banyak kenangan lain yang juga terlupakan. Bukan karena tidak penting, tapi karena saat itu kita memang belum cukup mengerti keadaan. Kita hanya tahu bahwa besok harus berangkat sekolah, bermain dengan teman, lalu pulang ke rumah. Di balik itu, ternyata ada orang tua yang sedang menghitung pengeluaran, menentukan mana yang harus didahulukan, dan diam-diam mengorbankan banyak hal supaya kami tetap bisa sekolah.

Hari ini saya tidak mengingat celana sekolah yang pernah sobek itu. Tapi saya mengingat perjuangan yang ada di baliknya.

Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Bapak. Dan terima kasih juga untuk Kakek, yang mungkin lewat jahitan-jahitannya, tanpa saya sadari telah membantu saya menyelesaikan masa sekolah dengan penuh rasa syukur.