
Kenapa Kita Semua Nggak Punya “Normal” yang Sama
Pernah nggak kalian terkejut waktu tahu ternyata ada orang yang belum pernah beli kopi kekinian seharga 20 ribuan? Atau belum pernah masuk photobooth yang tarifnya 35 ribu per sesi? Bahkan, ada juga yang belum pernah nonton film di bioskop seumur hidupnya.
Jujur, saya pernah. Awalnya saya juga sempat heran. Rasanya hal-hal seperti itu sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mau ngopi tinggal ke coffee shop, pengen foto tinggal masuk photobooth, lagi ada film menarik ya tinggal beli tiket bioskop. Semuanya terasa begitu biasa.
Terlebih lagi, setelah dipikir-pikir, saya sadar kalau "biasa" itu ternyata sangat bergantung pada tempat kita tumbuh. Ada yang dari kecil memang terbiasa diajak ke mall, ada yang baru pertama kali masuk mall ketika sudah kuliah. Ada yang setiap minggu nongkrong di kafe, ada juga yang nongkrong paling nyaman ya di warung sambil minum teh hangat. Tidak ada yang salah, hanya saja latar belakangnya berbeda.
Tapi kalau boleh menyebut satu hal yang paling saya pelajari, itu adalah ternyata kehidupan kita sering kali dibentuk oleh bubble sosial. Kita menganggap apa yang ada di sekitar kita sebagai sesuatu yang normal, padahal belum tentu begitu bagi orang lain.
Misalnya soal makanan cepat saji. Buat sebagian orang, makan McD atau KFC mungkin cuma pilihan kalau lagi malas masak. Tapi buat sebagian yang lain, itu bisa jadi hadiah setelah sekian lama menabung. Begitu juga dengan liburan. Ada yang menganggap naik pesawat itu rutinitas, sementara ada yang sampai hari ini belum pernah merasakan bagaimana rasanya duduk di kursi dekat jendela sambil melihat awan dari atas.
Hal yang sama juga berlaku untuk gadget atau layanan streaming gitu. Di satu lingkungan, punya smartphone terbaru atau berlangganan Spotify Premium mungkin sudah dianggap biasa. Di lingkungan lain, mengeluarkan uang setiap bulan untuk hiburan justru terasa sebagai kemewahan. Padahal bendanya sama, hanya cara hidup dan prioritas setiap orang yang berbeda.
Dari situ saya mulai paham kalau privilege bukan selalu tentang siapa yang paling kaya. Kadang privilege sesederhana punya akses terhadap sesuatu tanpa harus berpikir dua kali. Bisa beli kopi tanpa menghitung sisa uang di dompet. Bisa nonton bioskop kapan saja. Bisa jalan-jalan tanpa terlalu memikirkan ongkosnya. Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele, tapi tidak semua orang punya kesempatan yang sama.
Menurut saya, kesadaran seperti ini penting supaya kita nggak mudah menghakimi. Kadang kita terlalu cepat melabeli orang sebagai kurang gaul, kurang update, atau ketinggalan zaman. Padahal bisa jadi mereka hanya hidup dalam realitas yang berbeda. Bukan karena tidak mau mencoba, tapi memang belum pernah punya kesempatan.
Makanya saya merasa semakin dewasa, semakin sadar kalau pengalaman hidup setiap orang itu unik. Apa yang saya anggap normal, belum tentu normal bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya. Dan justru di situ letak menariknya. Kita jadi belajar bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada lingkungan tempat kita berada.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan mengajak kita membandingkan siapa yang lebih beruntung. Justru sebaliknya. Saya cuma ingin mengingatkan diri sendiri bahwa hal-hal yang setiap hari saya nikmati, bisa jadi merupakan impian sederhana bagi orang lain. Mungkin dengan menyadari itu, kita bisa lebih banyak bersyukur, lebih sedikit menghakimi, dan lebih sering melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

