
Hari (Spesial)
Hari ini saya ulang tahun. Anehnya, rasanya tetap seperti hari-hari biasa. Pagi tetap bangun, tetap kerja, tetap beli Iced Palm Sugar Latte di Point Coffee... dan tetap bayar. Padahal saya sempat senyum ke kasir, berharap dia paham kalau hari itu spesial. Ternyata yang dia tunjuk cuma QRIS, bukan rasa.
Terlebih lagi, momen itu malah bikin saya kepikiran. Kenapa ya, setiap ulang tahun rasanya kita selalu terdorong buat refleksi diri? Saya sempat duduk di teras, natap langit kosong sambil sok merenung. Belum juga nemu jawaban, tiba-tiba hujan turun. Ya begitulah hidup, kadang datang tanpa aba-aba. Basah ya basah aja. Tapi saya tetap nggak masuk rumah, karena sudah terlanjur membangun suasana dramatis.
Tapi kalau boleh menyebut satu hal yang paling mengganggu pikiran saya saat itu, justru bukan soal umur. Saya malah kepikiran kenapa Indomie selalu terasa lebih enak dimakan waktu hujan. Alhasil sesi refleksi itu gagal total, karena kalah sama rasa lapar.
Ngomongin umur, sebenarnya saya nggak terlalu mempermasalahkan angkanya. Yang lebih aneh justru kesadaran kalau dulu waktu kecil kita selalu ngeliat "abang-abang" sebagai orang dewasa yang kelihatannya sudah ngerti semuanya. Sekarang, tanpa sadar, ternyata kita yang jadi abang-abang itu. Lucunya, saya masih sering ngerasa bingung juga.
Malamnya saya duduk di depan layar, scrolling tanpa tujuan. Ada momen ketika semua terasa seperti pengulangan. Bangun, kerja, pulang, tidur. Besoknya begitu lagi. Saya sempat mikir, kalau hidup ini sebuah film, saya ini pemeran utama atau cuma figuran? Setelah dipikir-pikir, kayaknya jadi figuran juga nggak buruk. Nggak ada tuntutan harus tampil sempurna. Cuma lewat sebentar, haha-hihi, terus tetap dibayar. Serius.
Lalu masuk satu notifikasi.
"Selamat ulang tahun!"
Bukan dari teman. Bukan dari keluarga. Tapi dari seller toko online tempat saya beli Logitech G102 setahun yang lalu. Terima kasih ya, ternyata yang paling konsisten mengingat ulang tahun saya justru algoritma e-commerce. Tapi di luar bercanda, mouse itu memang enak dipakai kerja. Rekomendasi sih.
Dari situ saya malah kepikiran lagi. Kalau ulang tahun sebenarnya cuma pengingat kalau kita masih diberi kesempatan hidup, kenapa harus dirayakan setahun sekali? Kenapa nggak setiap hari saja? Hari ini ulang tahun. Besok ulang tahun lagi. Lusa juga begitu. Toh setiap hari kita tetap bangun, tetap diberi waktu buat mencoba lagi, buat gagal lagi, buat memperbaiki lagi.
Jadi mungkin itu kesimpulan saya hari ini. Ulang tahun bukan tentang bertambahnya angka, tapi tentang masih adanya kesempatan. Kesempatan buat ketawa, buat sedih, buat makan Indomie saat hujan, atau sekadar duduk sambil menikmati kopi yang tetap harus dibayar, meskipun lagi ulang tahun.
Dan ya... hari ini saya ulang tahun.
Tapi tetap bayar pas beli kopi.

